rice field eel catching competition at Subak Spirit Festival 2024
· ,

Penguatan Ekosistem Kebudayaan Lanskap Budaya Provinsi Bali sebagai Manifestasi Filosofi Tri Hita Karana

Kementerian Kebudayaan melaksanakan Temu Budaya Subak, yang masih menjadi rangakaian Subak Spirit Festival yang dilaksanakan mulai tanggal 9 November 2024. Inskripsi Warisan Dunia UNESCO untuk Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy (2012) merupakan pengakuan internasional untuk Sistem Subak sebagai warisan adiluhung Leluhur Bali dalam membangun ekosistem Pulau Bali dan mengelola sumber air untuk mengolah tanah bagi pertanian padi. Warisan budaya dunia ini tersusun sebagai serial lima lokasi situs, yaitu Pura Ulun Danu, Danau Batur, Lanskap Subak DAS Pakerisan, Lanskap Subak Caturangga Batukaru, dan Pura Taman Ayun. Interaksi Manusia dan Lingkungan di Pulau Bali ini diwakili oleh lima lokasi situs tersebut melalui kombinasi lanskap sawah terasering, aliran irigasi bersama bendungan dan terowongan yang dikombinasikan dengan danau dan sungai serta mata air sebagai sumber pasokan air, hutan yang menyediakan air, pura, pura air, tempat suci, dan desa, bersama dengan proses tradisional sistem subak yang terkait dengan prinsip filosofis Tri Hita Karana yang memberikan respon sosial dan ekologis yang berkelanjutan.

Sistem Subak dan Pertanian Tradisional di Bali saat ini menghadapi keterancaman terkait kerusakan sumber air dan berkurangnya pasokan air irigasi, alih fungsi dan kepemilikan lahan dan berkurangnya kesuburan tanah, kelemahan profesi petani pemakai air dan berkurangnya tenaga kerja produktif serta regenerasi anggota subak, dan kekurangan nilai ekonomis produk pertanian padi serta jaringan ekonomi subak, serta tekanan lingkungan alam dan risiko kebencanaan Pulau Bali. Tata kelola dan sistem manajemen Warisan Dunia UNESCO di Bali ini memerlukan upaya penguatan terhadap kelembagaan dan mekanisme pengelolaan warisan budaya dunia, yaitu Dewan Pengelola Warisan Budaya Bali dan Forum Koordinasi Pengelolaan Warisan Dunia Lanskap Budaya Provinsi Bali yang didirikan oleh Gubernur Bali. Semenjak dijanjikan efektif menyambut Inskripsi Warisan Dunia (2012), lembaga dan forum ini belum dapat mewujudkan efektifnya pembangunan lintas sektor dan antar wilayah di Provinsi Bali dalam menjamin keterlindungan dan keterkelolaan lima lokasi situs komponen yang menjadi serial warisan budaya dunia.

Sistem Subak dari lanskap budaya Pulau Bali memerlukan agenda pelestarian, berkenaan ketersediaan air tanah (sumber air: mata air, danau, sungai; dan kebutuhan: rumah-tangga, pertanian, usaha dan industri; serta keberadaan gunung dan hutan), dan keberlangsungan pertanian tradisional yang ramah lingkungan (pertanian padi, lahan sawah berteras, sistem irigasi), serta keberlanjutan subak (parahyangan, pawongan, dan palemahan) yang berelasi dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Penguatan Ekosistem Subak melalui platform Subak Spirit merupakan salah satu program unggulan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan pada tahun 2024. Penguatan Ekosistem Kebudayaan ini merencanakan kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung implementasi Rencana Pengelolaan termasuk penegasan rencana aksi dalam pemanfaatan dan pelestariannya melalui beragam aktivitas, salah satunya adalah Temu Budaya Subak. Temu Budaya Subak menjadi ajang presentasi keberhasilan pertanian di Bali dan dialog oleh para pemangku kepentingan dalam merespon isu-isu subak, khususnya para praktisi pertanian (kegiatan dan capaian di bidang pertanian), praktisi pariwisata dan agrowisata (peran subak dalam pariwisata), dan akademisi (penjelasan kuantitatif terkait potensi pertanian bagi pariwisata).

Adapun tujuan dari temu budaya Subak yang dilaksanakan hari Senin, 11 November 2024 ialah

  1. Mengaktivasi ekosistem kebudayaan dari Sistem Subak, Pertanian Tradisional, dan Warisan Budaya berikut OPK dari serial lima lokasi situs warisan budaya dunia yaitu Pura Ulun Danu, Danau Batur, Lanskap Subak DAS Pakerisan, Lanskap Subak Caturangga Batukaru, dan Pura Taman Ayun.
  2. Memetakan praktik-praktik baik konservasi alam dan sumber air, safeguarding Sistem Subak, preservasi pertanian tradisional yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, dan pelindungan warisan budaya berikut pemajuan kebudayaan.
  3. Memetakan potensi pengelolaan air, pertanian, kebudayaan, dan pariwisata di Bali.
  4. Menetapkan peta jalan Subak Spirit dalam lima tahun ke depan.


Discover more from Subak Spirit

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

More from the blog

Discover more from Subak Spirit

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading