Subak Spirit 2025 Napak Toya
· ,

Napak Toya: Menapak Jejak Air

Napak Toya Subak SPirit Talk 2025

Bali selalu memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan bahwa alam adalah guru pertama manusia. Dari kolaborasi antara Kitapoleng dan Kementerian Kebudayaan dalam Subak Spirit Festival 2024, lahirlah Napak Toya di tahun 2025—seperti mata air baru yang memanggil kita kembali pada asal mula kehidupan. Dikurasi oleh Artistic Director Dibal Ranuh, co-founder Kitapoleng, perjalanan ini menuntun kita menyusuri aliran air sebagai sumber kesadaran, keseimbangan, dan ingatan kolektif.

Di tengah krisis air Bali yang kian terasa; banjir mendadak, susutnya lahan persawahan, melemahnya aliran Subak, hingga berkurangnya minat generasi muda pada dunia pertanian, Napak Toya hadir bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai ruang hening, tempat untuk kembali mendengarkan suara air.

Mengapa Napak Toya?

Menapak air berarti kembali menyusuri jalurnya. Kita memulai dengan satu pertanyaan sederhana: apa yang terjadi pada hubungan manusia dengan air? Bagaimana keretakannya tercermin dalam alam, masyarakat, dan kehidupan spiritual? Napak Toya mempertemukan tiga perspektif; kemanusiaan, alam, dan roh air.. melalui suara lintas generasi dan disiplin.

Tiga Suara, Tiga Dimensi Kesadaran

Gede Robi Navicula Subak SPirit Talk 2025

Sosial & Ekologis

Gede Robi mengajak kita melihat krisis air melalui lensa gerakan sosial dan ekologi. Melalui musik, riset lapangan, dan advokasi, ia mengungkap bahwa ketika air mengeruh, itu mencerminkan kesadaran kolektif yang turut mengeruh.

Agung Wedhatama Petani Muda Keren Subak Spirit Talk

Lahan & Regenerasi

Kolektif Petani Muda Keren Bali yang bekerja langsung dalam sistem Subak, berhadapan dengan persoalan aliran air, perubahan ekosistem, alih fungsi lahan, serta urgensi regenerasi petani. Dari mereka, kita belajar tentang realitas masa depan pangan Bali.

Yesi Candrika Subak SPirit Talk 2025

Sastra & Spiritualitas Air

Melalui tradisi kidung, Yesi Candrika mengajak kita kembali peka terhadap air sebagai roh, bukan sekadar sumber daya. Kata-katanya membuka ruang bagi pesan-pesan halus yang lama terlupakan.

Seni Jembatan Kesadaran

Napak Toya bukan sekadar ruang diskusi; ia adalah sebuah pengalaman yang hidup.
Melalui Kitapoleng, pendekatan seni kontemporer yang berpijak kuat pada tradisi menemukan wujudnya. Di bawah arahan artistik Dibal Ranuh dan koreografi Jasmine Okubo, lahirlah bahasa visual dan performatif yang khas—original, emosional, dan mampu mengetuk rasa sekaligus membuka pintu kesadaran baru bagi setiap penonton.

Sandrina Malakiano Subak Spirit 2025

Sandrina Malakiano

Acara ini dipandu oleh Sandrina Malakiano, jurnalis dan presenter senior yang dikenal atas kejelasan komunikasi serta pengalaman luasnya di dunia penyiaran dan public speaking. Kehadirannya menghadirkan narasi Napak Toya secara hidup dan relevan, menghubungkan penonton dengan makna di balik setiap momen. Dengan perpaduan seni, tradisi, dan komunikasi yang kuat, Napak Toya menawarkan ruang refleksi yang jernih.

Ayu Laksmi

Sebagai salah satu seniman yang dihadirkan oleh Kitapoleng dalam kolaborasi khusus untuk Napak Toya, Ayu Laksmi membawa tembang suci dan monolog yang menyentuh jiwa. Melalui kehadirannya, perjalanan acara memperoleh pusat rasa yang mengalun lembut, membuka ruang refleksi batin bagi para audiens.

Wayang Ental

Wayang Ental menjadi representasi langsung dari jembatan antara tradisi dan konteks modern. Melalui bentuk teater visual ini, kisah leluhur, simbol air, dan kosmologi Bali dihadirkan kembali untuk mengajak kita memahami bahwa air bukan sekadar unsur alam, tetapi penjaga keseimbangan dan kesucian.

Visual Artist Subak Spirit 2025

John McGarity, Nur Setyanto dan Anden Pundy

Melalui kolaborasi dengan Kitapoleng, John McGarity mempersembahkan seni visual yang menarasikan perjalanan air, jernih, keruh, jatuh, mengalir. Dalam bahasa seni sinematik yang memungkinkan kita untuk merasakan air sebagai sosok hidup, bukan hanya menyaksikannya.

Napak Toya: Ruang untuk Mengingat

Program ini mengajak kita bertanya: ketika air berubah, apakah kita ikut berubah? Ketika Subak terancam, apakah kita masih mendengarkan alam? Di Bali, air bukan hanya substansi fisik, air adalah tirta, anugerah, penjaga keseimbangan. Melalui Napak Toya, kita diajak kembali menghormatinya, dengan kejernihan, kepekaan, dan kesadaran yang diperbarui.


Discover more from Subak Spirit

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

More from the blog

Discover more from Subak Spirit

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading