
Oleh Putu Suasta, Alumni UGM dan Universitas Cornell. Image by Dian D Reich
Baca artikel atnews, “Peradaban Air dan Industri Pariwisata di Bali” selengkapnya https://atnews.id/portal/news/21544
Download Apps Atnews Sekarang https://play.google.com/store/apps/details?id=com.ic.atnews&hl=en
Feature image link
Air sebagai Fondasi Budaya dan Kehidupan
Bagi masyarakat Bali, air bukan sekadar kebutuhan biologis. Dalam tradisi Hindu Bali, air—atau tirta—dipandang sebagai manifestasi Dewa Wisnu dan menjadi elemen utama dalam ritual keagamaan. Hampir seluruh siklus hidup, dari kelahiran hingga kematian, melibatkan air suci.
Dengan lebih dari 70% penduduk Bali berprofesi sebagai petani, air berfungsi sebagai tulang punggung perekonomian agraris. Prinsip Agama Tirta menyebutkan bahwa seluruh air di Bali bersumber dari danau-danau dan sungai-sungai utama yang mengalir dari kawasan pegunungan.
Sumber-Sumber Air Utama dan Jejak Peradaban
Sistem air Bali bertumpu pada empat danau besar: Batur, Beratan, Buyan, dan Tamblingan. Danau Batur, yang menjadi pusat orientasi “peradaban air”, memasok aliran sungai ke wilayah selatan dan timur pulau. Buyan dan Beratan menyuplai wilayah barat, sementara Tamblingan mengalir ke utara. Pola sebaran desa-desa tradisional Bali mengikuti aliran sungai-sungai tersebut.
Naskah kuno Raja Purana Pura Batur menegaskan bahwa seluruh organisasi subak—sistem irigasi warisan dunia UNESCO—wajib menjunjung air sebagai sumber kehidupan. Sistem ini telah berjalan lebih dari 2.000 tahun.
Konsumsi Air Tidak Seimbang: Lonjakan Permintaan Pariwisata
Meski ketersediaan air bersih Bali mencukupi untuk tiga juta penduduknya, kebutuhan itu menjadi timpang akibat pertumbuhan industri pariwisata. Hotel, vila, kolam renang, lapangan golf, dan fasilitas pendukungnya memerlukan penggunaan air dalam jumlah besar.
Angka Konsumsi yang Mengkhawatirkan
- Sekitar 50.000 kamar hotel dapat menghabiskan 3 juta liter air per hari.
- Satu wisatawan hotel mewah menggunakan air dua kali lebih banyak daripada satu keluarga Bali.
- Pada 1993, Bali telah memakai 53% dari total ketersediaan air bersih per kapita.
Di Badung dan Denpasar, penurunan suplai PDAM terjadi setiap siang dan sore hari. Pada titik tertentu, masyarakat harus bersaing dengan akomodasi di kawasan wisata seperti Nusa Dua, Kuta, Seminyak, Kerobokan, dan Sanur.
Intrusi Air Laut dan Pelemahan Ekosistem
Eksploitasi air tanah dan pengembangan infrastruktur pariwisata juga memicu kerusakan lingkungan. Hutan bakau di sepanjang jalur Airport–Nusa Dua–Sanur mengalami penyusutan 30–40%, menurut laporan Suara Bali.
Dampak langsung yang tercatat:
- Intrusi air laut hingga 1 km ke daratan
- Hilangnya habitat burung rawa dan biota pesisir
- Abrasi di sekitar 55 km dari total 430 km garis pantai Bali
Selain itu, pembangunan jalan dan proyek komersial menyebabkan alih fungsi lahan secara masif, mempersempit daerah resapan air.
Krisis Air Mulai Merambah Desa-Desa
Jika sebelumnya kekurangan air hanya terjadi di wilayah perkotaan, kini persoalan merambah pedesaan. Sawah-sawah petani mengering akibat alokasi air yang terbatas atau tersumbat oleh pembangunan.
Salah satu kasus terjadi di Kabupaten Badung, ketika sekelompok petani memotong pipa PDAM sebagai bentuk protes. Mereka menilai distribusi air lebih menguntungkan hotel dan kawasan komersial, sementara subak-subak mereka terancam mati.
PDAM Badung sendiri hanya mampu memproduksi 1.210 liter/detik, sementara kebutuhan mencapai 1.700 liter/detik. Kekurangan sekitar 500 liter/detik membuat krisis semakin terasa.
Ledakan Penduduk dan Urbanisasi
Luas Bali hanya 0,3% dari daratan Indonesia. Namun, kepadatan penduduknya kini mencapai lima kali lipat rata-rata nasional. Di Badung, kepadatan sudah menyentuh angka 1.200 jiwa/km².
Pertumbuhan pesat sektor pariwisata menarik pekerja dari berbagai daerah, memicu pembangunan perumahan di banyak titik strategis. Dampaknya:
- Sawah hilang dan subak mati
- Konflik antara penduduk lokal dan pendatang meningkat
- Identitas budaya terganggu karena lingkungan sosial semakin heterogen
Survei Bali Post tahun 2000 menunjukkan 97% responden mendukung peraturan pembatasan arus pendatang.
Seruan Ahli: Solusi Mendesak untuk Bali
Ketua Yayasan Pembangunan Bali Berkelanjutan, Dr. Ketut Gede Dharma Putra, menyatakan bahwa World Water Forum (WWF) 2024 harus memberikan dampak nyata, bukan sekadar seremoni. Ia menekankan bahwa Bali membutuhkan:
- Kebijakan kuat dalam pengelolaan air
- Anggaran khusus untuk penyelamatan sumber daya air
- Optimalisasi potensi alami sekitar 125.000 liter/detik
- Koordinasi antara provinsi, DPR/DPD, dan pusat
Jika tidak ada intervensi, kebutuhan air Bali pada 2025 yang mencapai 80.000 liter/detik akan sulit terpenuhi.
Penutup: Menghadapi Dua Arah Masa Depan
Bali berada di persimpangan dua orientasi:
- Peradaban Air — sistem budaya agraris yang berakar dari danau dan sungai.
- Pariwisata Modern — industri berbasis bandara dan pembangunan darat.
Keduanya kini saling beradu kepentingan, menciptakan benturan ekologis dan sosial. Tanpa langkah penyelamatan yang cepat dan terukur, krisis air bukan lagi ancaman masa depan—tetapi kenyataan yang sudah berlangsung hari ini.







