KONSEP PEMULIAAN AIR DI SUBAK
Sebagai sebuah sistem pengairan yang bertahan hingga saat ini, Subak memiliki konstruksi pengetahuan yang mesti didedah, diurai, dan dibicarakan dalam tataran pengetahuan. Catatan ini diniatkan sebagai sebuah ruang berbagi atas bacaan terhadap ritual pertanian subak Bali melalui analisis simbolik dan mitologis terkait konsep kelimpahan dan pelestarian air. Simbolisme dan mitologi dalam konsep pemuliaan air merupakan komunikasi visual manusia, Tuhan, dan alam khususnya dalam ritual Subak.
Penerapan filosofi Tri Hita Karana sebagai landasan relasi harmonis alam, manusia, dan Sang Pencipta, serta adanya kegiatan ritual sebagai unsur pemersatu anggota organisasi subak, berpotensi menopang eksistensi subak. Sedangkan dalam kosmos masyarakat Bali, atribut-atribut alam, religi, dan budaya saling berhubungan melalui sistem adat dan subak, dan sifat-sifatnya masih berfungsi penuh bahkan sudah bertahan selama ribuan tahun.
Ritual dalam budaya pertanian Subak–sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang diwujudkan dalam tindakan simbolik nyata–melibatkan interpretasi dan cara pandang kehidupan masyarakat pertanian Bali. Petani Bali pun melakukan rangkaian ritual dalam satu siklus masa tanam padi.
Ritual Mapag Toya merupakan bagian dari praktik keagamaan sebagai konsep pemuliaan dan pelestarian air sebagai sumber kehidupan, simbol kesucian, sarana pembersihan, sarana pengusir penyakit, dan sarana komunikasi yang menghubungkan manusia dengan manusia, Sang Pencipta, alam, dan leluhur.
Ritual dan upacara sebagai warisan tradisi dalam sistem keagamaan adalah kegiatan atau tindakan manusia untuk berkomunikasi dan melakukan pemujaan kepada Sang Pencipta atau Tuhan, Dewa, serta Roh Leluhur. Makna dalam ritual dan upacara terbentuk dari simbol-simbol dalam aktivitas sebagai perwujudan ruang (fisik) dan manusia (aksi). Makna tersebut disesuaikan dari aktivitas manusia; simbol-simbol yang diwariskan secara historis; dan pelestarian budaya, suatu sistem konsep yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi meliputi pengetahuan tentang dunia melalui mitos.
Paradigma–yang membentuk etos, karakter, kualitas hidup, moral, estetika, perasaan, dan pandangan hidup–tersebut telah mempengaruhi makna. Makna yang tercipta berupa interaksi harmonis antara aktivitas ritual (praktik upacara) dan mitos dengan realitas fisik tata ruang (sawah dan lingkungan alam) melalui ritual subak. Manusia tanpa aktivitas ritual tidak ada artinya, sedangkan ruang fisik tanpa aktivitas manusia menjadikan ruangan kosong, hanya berupa raga, tanpa ruh.
Air dianggap sangat berharga dan sangat dihormati sebagai ciptaan Tuhan. Air irigasi yang mengalir terus menerus dari sumber air ke sawah melalui sarana irigasi subak (berbagi bangunan) selalu diawasi oleh para Dewata yang bersemayam dalam sistem pura di kawasan subak. Air disakralkan sebagai simbol sumber kehidupan yang dibutuhkan manusia, hewan, dan tumbuhan. Pelaksanaan ritual subak menurut konsep Hindu Bali juga menggunakan air sebagai sarana komunikasi manusia dengan manifestasi Tuhan melalui Dewa Kehidupan (Wisnu) dan Dewi Kesuburan (Dewi Sri).
Rangkaian upacara pertanian diadakan secara bersama-sama oleh warga subak sebagai wujud keyakinan akan adanya kekuatan spiritual yang ikut serta dalam mengatur dan mengawasi pelaksanaan kegiatan di kawasan subak. Kawasan subak yang terdiri dari air, tanaman padi, dan tanah merupakan kawasan suci milik Ida Sang Hyang Widhi. Sedangkan, manusia mempunyai kewenangan untuk mengolah, memelihara dan mengembalikan hasil panen melimpah yang diterima sebagai ucapan syukur dan ungkapan rasa syukur.
Ritual mempunyai atribut visual yang nyata sebagai identitas. Ritual subak berperan sebagai alat pemersatu untuk menciptakan peluang komunikasi agar saling mempengaruhi dengan rasa kebersamaan dan semangat. Peran ritual subak tidak hanya sebatas upaya mempererat tali silaturahmi dengan leluhur, namun juga mempererat tali silaturahmi yang mendorong individu untuk bergabung dalam kelompok melalui ritual agar sadar akan kelompoknya. Selain itu, kesadaran akan pentingnya hubungan harmonis menuju kejayaan dan kesejahteraan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan manusia (pawongan), dan manusia dengan lingkungan alamnya (palemahan).
Melalui kegiatan ritual subak yang diwajibkan oleh masyarakat petani Bali, mereka menunjukkan pemuliaan dan pelestarian air sebagai sumber kehidupan, simbol kesucian, dan berkonotasi membersihkan dan mengusir penyakit. Konteks komunikasi menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta dan nenek moyang.
Catatan ini disusun berdasarkan artikel yang disusun oleh Maria Wahyuni, Imam Santosa, Irfansyah, I Nyoman Larry Julianto dengan judul “The Concept of Water Exaltation in the Subak” Artikel ini dipublikasi pada Journal of Law and Sustainable Development. Berikut adalah tautan dari jurnal tersebut








