Relasi Kuasa antara Pura Ulun Danu Batur dengan Subak di Seluruh Bali Made Sarjana
· ,

Relasi Kuasa antara Pura Ulun Danu Batur dengan Subak di Seluruh Bali

Relasi Kuasa antara Pura Ulun Danu Batur dengan Subak di Seluruh Bali

Oleh I Made Sarjana. Ketua.Lab. Subak dan Rekayasa Agrowisata Fakultas Pertanian Unud.

Penetapan subak sebagai warisan budaya dunia (WBD) UNESCO tahun 2012 mengundang tanya berbagai kalangan. Areal yang ditetapkan sebagai WBD tersebut tidak hanya persawahan yang menjadi bagian dari subak, namun Kawasan Kaldera Batur dan Pura Taman Ayun, Mengwi Badung. Tulisan ini mencoba memahami keberadaan kawasan Kaldera Batur sebagai bagian dari WBD UNESCO di Bali.

Dalam buku Pura Ulun Danu Batur yang diterbitkan Desa Pakraman Batur (2010) yang mengulas terkait pengeling-eling para subak dan umat Hindu di Bali Dwipa. Uraian ringkas tersebut dapat dikatakan sebagai tanda pengingat terkait keberadaan Pura Ulun Danu Batur yang memiliki peran strategis dalam menyangga peradaban Bali. Ada beberapa aspek penting yang diungkapkan sebagai relasi kuasa Pura Ulun Danu Batur dan Subak.

Pertama, Kawasan Kaldera Batur secara tradisional diyakini sebagai aktualisasi lingga yoni yakni Gunung Batur sebagai lingga, sementara Danau Batur merupakan perwujudan yoni. Mitosnya, pertemuan lingga yoni menghasilkan kesuburan. Secara logis, cerita tersebut layak dipercaya mengingat Gunung Batur merupakan gunung berapi aktif yang memproduksi abu vulkanik yang mengandung berbagai mineral bercampur hara yang mengendap dalam tanah. Sementara Danau Batur dengan luas pada ketinggian menjadi sumber air irigasi utama di Bali karena dimanfaatkan di tujuh kabupaten kota. Dari sembilan daerah tingkat II di Bali hanya Tabanan dan Jembrana yang sumber airnya tidak terkoneksi secara langsung dengan Danau Batur.

Buku tersebut sejatinya menjelaskan Danau Batur menyediakan air irigasi untuk subak di seluruh Bali. Disebutkan dalam  prasasti Trunyan di kawasan Kaldera Batur terdapat gua jala, gua tersebut memiliki dua fungsi yakni sebagai tempat pertapaan para Bhiksu dan juga jala menjadi saluran untuk mengalirkan air Danau Batur keseluruh subak yang berada di Bali melalui sungai dan danau lainnya di Bali. Ada 11 Tirta (air suci) yang berasal dari Danau Batur terdistribusi ke berbagai wilayah di Bali. Ada Tirta Danu Gadang mengalir ke Tukad Jinah, dan Tirta Danu Kuning mengalir ke Tukad Campuhan Ubud. Sementara itu Tirta Bantang Anyud air limpahannya merembes ke Tukad Jinah dan Tukad Bubuh, sedangkan Tirta Telaga Waja mengalir ke Tukad Telaga Waja (Rendang, Karangasem) bersama-sama dengan Tirta Shah dan Tirta Selukat/Ketipat.

Relasi Kuasa antara Pura Ulun Danu Batur dengan Subak di Seluruh Bali
Made Sarjana. Photography by ManButur Suantara
Pura Ulun Danu. Photography by ManButur Suantara

Selanjutnya, buku tersebut juga menggambarkan bahwa air danau di tiga danau lainnya yakni di Danau Beratan (Kabupaten Tabanan), Danau Buyan, dan Danau Tamblingan (Kabupaten Buleleng) airnya juga mengalir dari Danau Batur. Aliran air merupakan Tirta Pelisan yang disalurkan melalui tiga danau tersebut sehingga seluruh sawah atau subak di Bali mendapat air irigasi yang cukup. Ada juga Tirta Rejeng Anyar yang bermanfaat sebagai air minum dan air irigasi di Kabupaten Buleleng utamanya di wilayah Buleleng Timur. Tirta Mas Mampeh berkaitan erat dengan budidaya padi di sawah yang dikelola subak. Untuk kelancaran budidaya padi, krama subak wajib nuur (mendapatkan) Tirta dan dipercikkan di areal sawah sebanyak tiga kali pada musim tanam. Pertama, tirta ini sebagai Tirta Sawinih yang diaplikasikan saat baru menanam atau menyemai benih tanaman padi atau komoditas lain yang dalam istilah Bali dikenal sebagai pala bungkah dan pala gantung. Selanjutnya, Tirta Penglanus dipercikkan kepada tanaman saat mulai berbuah, serta terakhir Tirta Ngusaba Nini dipercikkan ketika mengucap rasa syukur atas keberhasilan panen padi atau komoditas lainnya yang berlimpah.

Danau Batur juga menjadi sumber Tirta yang bermanfaat untuk kesehatan dan penyucian diri. Air panas yang banyak bermunculan di kaki Gunung Batur merupakan limpahan dari Tirta Mas Bungkah yang berfungsi untuk menjaga ketahanan tubuh dan mengobati penyakit. Penyucian diri untuk umat di seluruh dunia dapat menggunakan Tirta Pura Jati, keyakinan ini tercantum pada babad Bujangga Waisnawa. Tirta penglukatan untuk penyucian diri dapat menggunakan Tirta Mengening. Pengembangan teknologi atau mekanisasi pertanian untuk kelancaran aktivitas budidaya pertanian dalam subak tersedia Tirta Perapen yang berlokasi di Sampian Wani Batur. Tirta ini dipercikkan untuk kelancaran para pande mengerjakan alat-alat pertanian dan perkakas rumah tangga lainnya.

Hubungan yang erat antara ketersediaan air suci mendukung berbagai upacara keagamaan dalam subak dengan Pura Batur tak terbantahkan lagi. Pura Batur memiliki “relasi kuasa” yang kuat dengan petani. Dalam hal ini petani tidak mungkin berpaling dari kewajibannya ngrastiti/ bersembahyang di Pura Batur jika upayanya dalam mengelola usaha tani padi di sawah berjalan lancar dan berproduksi dengan baik. Dalam nuur (mendapatkan) Tirta dari Pura Ulun Danu atau 11 sumber tirta di kawasan Kaldera Batur petani mesti mempersembahkan sesajen tertentu sesuai persyaratan dan tujuaan mendapatkan Tirta tersebut.

Sebagai contoh, Tirta Kekuluh Pemungkah dilaksanakan pada sasih karo dengan persyaratan sesajen yakni salaran, banten pejati dan soroan. Mendak Tirta/Kekuluh Penglanus dilaksanakan pada sasih kelima dengan persembahan (sesajen) yang sama. Sendari itu saat mendak Kekuluh/Tirta Ngusaba Nini dilaksanakan pada upacara piodalan Pura Ulun Danu Batur yakni Purnama Sasih Kedasa. Selain, sesajen di atas maka pengurus masing-masing subak juga menghaturkan sarin tahun/ bagian dari hasil pengelolaan usaha tani dalam subak. Sarin tahun ini biasanya dipersembahkan dalam bentuk padi atau beras, ada juga menyampaikan dalam bentuk uang tunai. Besar kecilnya sarin tahun tergantung pada keiklasan krama subak masing-masing.

Pura Ulun Danu. Photography by ManButur Suantara
Pura Ulun Danu. Photography by ManButur Suantara

Jika padi di sawah terserang hama dan penyakit tanaman secara masif dan dapat diduga serangan tersebut dapat menyebabkan produksi beras terganggu. Petani disarankan nunas (meminta) Tirta/Kekuluh yang dipercikkan ke sawah masing-masing. Sesajen yang dihaturkan di sawah saat upacara nanggluk mrana adalah canang ajuman putih kuning meulam telur dadar, baas putih kuning, sesajen di setiap sudut areal sawah milik seorang petani berupa tangkih berisi nasi dan irisan bawang dan irisan jahe masing-masing tiga iris. Segehan putih kuning dan segehan manca sebanyak satu buah, serta tabuh arak berem. Sesajen tersebut diiringi lantunan matra sebagai berikut:

Dewa Bhatara Wisnu, titiang meaturan canang ring I ratu. Apang sika I Ratu ngayap aturan titiang, raris nyiratang banyun cokor, Dewa Ratu titiang manunas penglanus”.

Untaian doa tersebut menunjukkan petani senantiasa berpasrah diri dalam memohon anugerah Tuhan agar apa yang diusahakan di areal usaha taninya berhasil baik. Doa ini sebagai upaya petani mendapatkan ketenangan jiwa sehingga mereka dapat fokus mengelola usaha tani dengan mengaplikasikan segala pengalaman dan keterampilan yang dimiliki.

Relasi kuasa Pura Ulun Danu Batur dengan krama subak di seluruh Bali dapat dimaknai secara positif. Selama ini istilah relasi kuasa cenderung dipandang sebagai upaya eksploitasi penguasa kepada pihak yang dikuasai. Intermediate yang akrab antara pengempon Pura Batur dan petani (anggota subak) sebagai wujud nyata dari filosofi tri hita karana (THK) yang dijadikan acuan pada manajemen organisasi subak. THK secara sederhana dimaknai sebagai hubungan harmonis antara petani dengan sang pencipta (parahyangan), tidak adanya konflik antar sesama petani ataupun petani dengan pihak lain dalam memanfaatkan sumber daya air (pawongan), serta petani mampu mengelola usaha tani dengan memanfaatkan teknologi ramah lingkungan/ teknologi pertanian organik sehingga kesuburan tanah maupun kesehatan lingkungan pertanian terjaga (palemahan). 

Hubungan tulus iklas antara petani dan Pura Ulun Danu Batur menjadi dasar peradaban manusia Bali. Petani meyakini sepenuhnya bahwa mereka tidak dapat bercocok tanam dengan baik tanpa anugrah yang berlimpah berupa tanah yang subur dan air irigasi yang tersedia sepanjang tahun. Sebagai ungkapan rasa syukur petani pun menyampaikan sarin tahun pada setiap piodalan di pura tersebut. Hal ini berarti ada pembagian peran yang proporsional antara Pura Ulun Danu Batur dengan petani dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat (penyediaan pangan bagi krama Bali). Pembagian peran ini dalam konteks pendekatan sekala dan niskala pada pengelolaan usaha tani di Bali. Di dunia nyata (sekala) petani berusaha tani secara serius dalam menyiapkan lahan, memilih bibit yang akan dibudidayakan, memelihara (menyiangi, memupuk maupun menangkal serangan hama dan penyakit tanaman), serta melakukan panen maupun pengaplikasian teknologi pasca panen (pengangkutan, penyimpanan maupun pengolahan).

Upaya-upaya petani tersebut bertujuan adanya bahan pangan dalam kuantitas dan kualitas yang cukup. Namun demikian, bagi petani kerja keras saja belum cukup untuk menggapai kesuksesan dalam mengelola usaha taninya, mereka selalu berdoa memohon anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Doa yang dipanjatkan kepada Dewa Wisnu (manifestasi Tuhan dalam fungsinya selaku pemelihara alam beserta isinya), dalam perspektif petani dan masyarakat Bali pada umumnya Dewa Wisnu berstana di Pura Ulun Danu Batur. Dengan kata lain, Pura Ulun Danu Batur memiliki peran menjaga kelancaran produksi pangan bagi masyarakat secara niskala. Tradisi atau kearifan lokal ini sepatutnya dipertahankan baik oleh masyarakat Bali saat ini maupun di masa depan sehingga pertanian dan peradaban Bali tidak punah.




Discover more from Subak Spirit

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

More from the blog

Discover more from Subak Spirit

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading